Sinau

Mocopat Syafaat : Sudah Mengalami Perubahan apa ?

Semilir angin malam kota pendidikan, Yogyakarta,  ditemani langit yang cerah bertaburan bintang. Membuka malam pertama dibulan Ramdhan, menjadikan seluruh alam, langit, bumi, serta makhluk hidup didalamnya bertasbih menyambut dengan suka riang bulan yang mulia. Malam yang penuh dengan kebersamaan, penuh dengan persatuan kaum islam di Nusantara, malam ini seluruh ormas islam bersepakat untuk melaksanakan ibadah puasa pada esok harinya.

Rabu malam 17 Juni, Selain keindahan persatuan umat islam, keindahan itu terpancar juga oleh para jamaah maiyah, karena dimalam yang indah ini, acara rutinitas bulanan Mocopat Syafaat diadakan. Bertempat di TKIT Alhamdulillah, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, seluruh penggiat maiyah berkumpul. Maiyah adalah sebutan bagi para jamaahnya Emha Ainun Najib atau sering dipangil dengan nama Cak Nun. Ia adalah salah satu tokoh budayawan di Indonesia yang sangat banyak memberikan kontribusi kepada masyarakat di bumi pertriwi ini.

Suasana sangat ramai, halaman serta perkarangan milik masyarakat sekitar penuh sesak berjejer rapih motor para jamaah, pedagang atribut Maiyah pun berjejer rapih menjajakan barang dagangannya kepada para jamaah. Tak sampai disitu, anak-anak kecil dengan muka polosnya pun ikut mencari keberkahan dimalam yang penuh keindahan, dengan wajah lugunya mereka menjual koran bekas, untuk alas duduk jamaah.

“Pak., Bu… Mas., Mba.,  mari koranya, buat alas duduk” dengan logat khas Jawa Jogja mereka tawarkan satu persatu jamaah yang datang.

Pukul 21:00 WIB jamaah yang berdatangan semakin ramai, halaman TKIT Alhamdulillah pun sudah penuh dibanjiri oleh lautan manusia, dan terlihat sebagian lautan manusia tersebut, ada warna merah putih yang menempel dikepala jamaah. Ya., ini peci khas identitas jamaah Maiyah, jiwa nasionalisme pun telah tumbuh dan menyatu didalam diri jamaah maiyah. Mocopat syafaat yang bertepatan dengan hari pertama bulan ramadhan ini tidak di sia-siakan oleh para penggiat maiyah mencuri start, mencari ridho Allah sedini mungkin, atau mungkin banyak juga yang memang mencari bekal untuk bergumul dengan Ramadhan, sangat penuh.

Lantunan ayat suci Al Qur’an serta beberapa sholawat terlantunkan dengan merdu nan khusyuk oleh jamaah maiyah sebagai pembuka acara Mocopat Syafaat kali ini. Setelah itu, beberapa personil Kiyai Kanjeng mecoba memimpin bersholawat bersama jamaah maiyah. Beberapa sholawat dilantunkan, kemudian jammah diseret untuk masuk dalam suasana sedih, jamaah dipaksa untuk mengenang Almarhum Muhammad Zainul Arifin yang meninggal dunia, lima hari yang lalu, tepatnya 12 Juni pukul 20:05 WIB di RS Haji Sukoliko Surabaya.

Kang Zainul begitulah nama pengilannya, adalah pelantun ayat-ayat suci Al-Qur’an yang menguasai berbagai cengkok lisanul arabi khas Jawa Tengah, berasal dari sebuah desa di Mojokerto, Jawa Timur dipangggil oleh Allah diusia yang cukup muda (39). Ia salah satu vokalis utama Kiai Kanjeng yang bergabung lebih dari lima belas tahun. Mengikuti tour-tour keliling dunia; dari kawasan Timur Tengah, Eropa, Hongkong, Taiwan, Macau sampai negri tetangga, Malaysia.

Zainul juga adalah seorang guru bagi qori-qori dari berbagai daerah yang akan berlomba mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran tingkat Nasional maupun Internasional. Tidak mengherankan tatkala tampil di beberapa kota di Mesir, Abu Dhabi dan Maroko, Zainul dielu-elukan. Mendapatkan aplus panjang. Bahkan Driss Ouaouicha, Rektor Universitas Al Akhawayn, Maroko, secara khusus meminta bertemu dengan Zainul. Rektor bersama Ketua Lembaga Bahasa Universitas tersebut terkagum-kagum terhadap suaranya dalam membawakan suluk-suluk atau lagu-lagu berbahasa Arab.

Berkali-kali Qiroah, Suluk dan lagu yang pernah ia bawakan didengarkan kembali kepada jamaah maiyah. Serta lagu terakhir yang ia buat saat terbaring di rumah sakit, berjudul “Harapan dan Doa” diputarkan. Lagu yang hanya direkam, melalui handphone kemudian diisi musik oleh Kiai Kanjeng ini menghipnotis para jamaah. Semua tertunduk dengan sedih, sosok yang sangat berperan di Kiai Kanjeng telah tiada. Tuhan sangat merindukannya, sehingga ia dipanggil dengan cepat. Tetesan air mata sebagian jamaah akhirnya pun pecah.

Sungguh suasana yang memang sangat mengharukan. Walaupun banyak sebagian dari jamaah maiyah yang belum pernah bersua dengan kang Zainul.  Tapi, secara ruh mereka satu jiwa, mungkin memang suatu saat, suara kang Zainul akan didengar lagi bukan di alam ini, namun kelak diakherat, suara beliau akan menyatukan lagi jamaah maiyah semua yang sudah berpindah alam ke alam akherat, menjadi petunjuk dapatnya syafa’at Rasul.

Acara mengenang almarhum kang Zainul, diakhiri dengan pembacaan puisi oleh panyair sesepuh, Mustofa, berjudul “Lebih dari Seruling Jiwa”, diiringi oleh musik melo oleh Kiai Kanjeng.

###

Sosok lelaki yang usianya sudah lebih dari setengah abad, yang ditunggu-tunggu akhirnya pun tiba, Cak Nun. Bersarung putih, berbaju koko putih dan berpeci khasnya dengan warna merah putih. Melangkah gagah dari selatan pangung, ditemani oleh belahan jiwanya, dengan berpakian gamis merah serta dibalut kerudung merah muda bercorak, Mbak Novia. Berjalan menaiki pangung pendek, pangung yang tanpa batas dengan jamaahnya. Pangung yang menurut para jamaah adalah pangung demokrasi, semua orang entah dari mana asalnya dapat memberikan ilmu, kritikan, pendapat serta pengalaman hidupnya di pangung itu.

Cak Nun langsung memberikan pancingan-pancingan seperti biasa, memberikan pembuka untuk menuju acara diskusi inti “Tikungan Sejarah dan Banjir Bandang Perubahan” serta mengingatkan agar jamaah semua mendapatkan hidayah berlipat kali dari biasanya.

“Muatan puasa salah satunya adalah kemampuan untuk memanage kapan harus mengegas dan kapan harus mengerem” ujar lelaki kelahiran Jombang itu.

Selain itu, moment ini digunakan untuk mengenang seluruh penggiat maiyah yang telah tiada, khususnya yang sangat dekat dengan Cak Nun, dan merupakan penyokong-penyokong utama awal pergerakan maiyah Nusantara. Hingga waktu sudah menunjukkan pukul 00.21, namun seolah tau yang diinginkan jamaah, perut mereka terus dikocok dengan cerita-cerita konyol, bunga-bunga kehidupan perjalanan Kiai Kanjeng.

Catatan penting yang diberikan oleh Cak Nun untuk para jamaah setelah menceritakan bunga-bunga kehidupan perjalanan Kiai Kanjeng : “kenalilah tanda-tanda yang ada dalam hidupmu, hafalkanlah polanya, cari tau kebiasaan Allah dalam menggodamu, terus gali moment-momentnya, tentang cara Allah menurunkan Rizki, kapan Allah memberikan pelajaran tentang kesabaran, kapan Allah memberikan pelajaran tentang ikhlas. Terus dan teruslah cari tanda-tandanya”.

Setelah puas dengan cerita-cerita kehidupan dari Cak Nun, jamaah diminta switch, berpindah ke  kekhusuan yang berbeda, ia mempersilahkan Pak Mustofa selaku dalang diskusi untuk memulai diskusinya. Ditemani  Sabrang “Noe” dan KH Ahmad Muzamil turut membuka diskusi “Tikungan Sejarah dan Banjir Bandang Perubahan”.

Catatan penting dari diskusi inti yang didalangi pak Musthofa, ditemani Sabrang “Noe” dan KH Ahmad Muzammil, adalah tentang perubahan apa yang bisa dilakukan oleh jamaah maiyah ? apakah mau meninju balik banjir perubahan itu, atau hanya akan terseret-seret tak tentu arah ? mempelajari pola-pola sehingga benda bisa “krek” berubah dan tak bisa kembali seperti semula, mempelajari sejarah, fisika, ekonomi, hingga persoalan puasa yang seharusnya bisa memberikan perubahan yang teramat sangat besar untuk dunia, dengan analogi jika puasa perseorangan itu diibaratkan satu orang menanam pohon, dan pohon tersebut minimal bermanfaat untuk diri sendiri, dan terkadang orang lain akan kecipratan kebaikan dari pohon tersebut, minimal untuk berteduh.

Maka puasa Ramadhan adalah gerakan menanam pohon seluruh dunia, bisa dibayangkan jika semua muslim menanam pohon ? pastilah sangat terlihat perubahan yang signifikan dari ekosistem dunia ini. Tapi apakah memang sudah seperti itu ?

Sungguh sangat teramat banyak catatan pertanyaan dari maiyahan kali ini.

Tidak terasa waktu sudah menunjukan 02:00 dini hari, acara diskusi Mocopat Syafaat pun sudah berada diujung acara, dengan kesimpulan semua tingkah laku kita, semua perbuatan kita yang mengarah kepada hal-hal yang positif, entah itu berbentuk ubudiah mapun non ibadah, maka seharusnya memberikan perubahan pada lingkungan kita, minimal memberikan manfaat atau perubahan pada diri kita sendiri. Seperti halnya berpuasa Ramadhan, puasa Ramdhan adalah gerakan menanam pohon seluruh dunia, maka dari itu kita haruslah memberikan perubahan pada hidup kita, bahkan bukan hanya memberi manfaat pada hidup kita, meliankan kepada seluruh alam.

Diujung acara ini, jamaah diajak untuk berdoa yang dipimpin oleh KH Ahmad Muzamil. Berdoa meminta kepada sang kuasa supaya apa yang sudah dilakukan oleh jamaah dapat memberikan perubahan yang besar bagi lingkungan sekitar, memberikan perubahan pada bangsa Indonesia bahkan bagi seluruh dunia. Doa yang diamini oleh semua jamaah maiyah adalah sebagai tanda penutup acara Mocopat Syafaat malam itu. Jamaah maiyah bergegas memisahkan dari majelis ilmu itu, bertebaran di bumi Allah, melanjutkan kegiatan masing-masing. Mempersiapkan santap sahur yang pertama kali di bulan Ramdhan pada tahun ini.

 

Facebook Comments

Tagged

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *