Agama, Inspirasi

KH Mukhlas Hasyim, Sang Pendidik Yang Bijaksana

“Bapak, apakah saya bodoh ya sampai saya masuk IPS? Mengapa saya masuk IPS? Saya ke pondok kan niatnya mencari ilmu agama, nanti saya akan jadi apa kalau masuk kelas IPS?!” Kurang lebih begitu redaksi yang tiba-tiba di keluarkan dengan raut sangat kecewa, matanya sedikit berkaca-kaca. Pertanyaan itu di lontarkan oleh salah satu Santri putri baru, saat masa orientasi sekolah MA Al-Hikmah 2.

Saat itu kami panita orientasi siswa dan OSIS terkaget-kaget dengan pertanyaan dan tingkah laku Santri baru itu. Ia memanggil Abah Mukhlas dengan panggilan ‘Bapak’ yang menurut kami sangat tidak sopan dan tidak beradab

Aku masih cukup terngiang kenangan di Pondok, saat menjadi OSIS MA Al-Hikmah 2 sekitar tahun 2012/2013, yang saat itu Abah Mukhlas masih menjabat Kepala Sekolahnya.

Kami selaku panitia, terkejut dan dibuat bingung harus bersikap seperti bagaimana. Bukan terkejut dan bingung akan pertanyaannya, itu nomor dua. Namun akhlak dan adab sang Santri putri baru tersebut.

Ia memang menanyakan hal tersebut saat sesi tanya jawab. Namun, dia lari ke meja Abah Mukhlas yang berada di ujung panggung GOR, dimana saat itu, satu satunya meja dan kursi di area dalam GOR, semua santri-santri (ngleprak) dibawah.

Seakan serentak hati kami sebagai panitia bergumam “Songong sekali anaknya, gak punya adab, tiba-tiba nongol dan ia berdiri tegap didepan meja Abah, kedua tangannya di letakkan di meja bersebrangan dengan Abah duduk, memanggil Kiyai kami dengan panggilan ‘Bapak’ pula”

Iya, kami terheran-heran melihat Santri baru putri yang berlagak seperti Bos mendatangi anak buahnya, menanyakan pekerjaan yang tak kunjung selesai. Terlihat jelas muka kecewa dan kesalnya karena masuk ke kelas IPS.

Kami semua panita panik, ingin rasanya maju ke depan untuk mengajari ia tata krama. Karena seumur-umur kami di pesantren, saat menghadap Kiyai, yang di lakukan adalah duduk dibawah, nglemprak, kepala nunduk baru bertanya. Dia bisa-bisanya berlagak seperti Bos berdiri tegak, kedua tangannya diletakkan di meja, dan bertatap-tapan muka, otomatis si Santri baru itu membelakangi kami semua sebagai audiences.

Saat kami hendak maju untuk membimbing ia untuk lebih sopan, Abah tersenyum lebar melihat arah anak tersebut dan beberapa kali mengarahkan senyum tersebut kepada kami panitia. Sakan mengasihi kode kepada kami “Maklum Santri baru yang bukan berasal dari pesantren, wajari saja”

Abah dengan lemah lembut menjelaskan kepada sang Santri baru tersebut.

“Nak, kamu tahu menteri keuangan Indonesia kita? Yang diangkat menjadi pegawai Bank Dunia?” Abah tak langsung menjawab pertanyaan Santri tersebut namun, bertanya kembali, terkait jabatan menteri keuangan di era presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu.

“Iya, Bu Srimulyani” jawab datar Santri itu.

“Beliau itu lulusan IPS loh, beliau belajar Akuntansi, belajar Ekonomi hingga bisa seperti saat ini, hingga di tunjuk oleh Bank Dunia untuk bekerja disana, dan satu-satunya wanita, satu-satunya warga Indonesia yang dapat berperan untuk dunia Internasional. Bermula dari apa? Dari jurusan IPS” Abah menceritakan sosok Bu Srimulyani yang saat itu memang sedang hangat-hangatnya berita tentang Menteri keuangan Indonesia.

Saat menceritakan hal itu, terlihat muka sang Santri sudah cukup reda. Begitu pula saya dan panitia OSIS lainnya, yang kami kira awal nya Abah akan Duko, karena adab Santri baru tersebut.

Nafas panjang aku hempaskan, karena sudah saking takutnya Abah Duko.

Ya, Abah memang sosok yang tegas. Terlebih kepada kami Santri-santri yang sudah cukup lama belajar di pesantren jika tak paham-paham dan suka ngeyel kalau dikasih petuah. Tak jarang kami santri-santri nya senam jantung takut Abah duko

Namun, ini berbeda. Beliau sangat paham betul dengan psikologis Santri baru tersebut. Serta secara tersirat mengajari kami, bagaimana cara berbicara dengan lawan bicara yang baik, bagaimana berbicara dengan menyesuaikan kondisi lawan bicaranya, jika ia bukan lulusan pesantren berbicara seperti apa, jika ia adalah petani berbicara seperti apa, jika berbicara kepada pejabat pun harus bagaimana. Abah memang selalu jago dalam hal ini.

Kemudian Abah melanjutkan menceritakan bahwa banyak tokoh-tokoh Indonesia, tokoh-tokoh dunia yang beragama Islam mampu memberikan kontribusi yang besar untuk masyarakat, dapat bermanfaat untuk sekitar meski background pendidikan bukan keagamaan. Bercerita mulai dari Ibnu Sina Bapak Kedokteran, Al Kindi, Hingga Ibnu Khaldun ahli Ekonomi.

Saat itu pula jika tidak salah, Abah berpesan kepada kami semua, kurang lebih begini redaksinya,

“Bahwa jalan berdakwah itu banyak, kamu tidak harus menjadi Kiyai, menjadi Mubaligh yang ceramah-ceramah diatas mimbar, tidak. Suatu saat kamu menjadi menteri ekonomi, menteri keuangan kamu bisa berdakwah lewat situ. Kalian yang jurusan IPA, menemukan zat kimia yang berguna untuk umat itu pun berdakwah. Bahkan banyak orang-orang non Islam yang masuk Islam dan akhirnya belajar Islam karena melihat penemuan-penemuan orang Islam, ada agama ada akhlak yang melekat pada dirinya, yang membuat mereka masuk Islam dari jalur Matematika, Kimia hingga ekonomi dan lain sebagainya”. Jawaban Abah tersebut yang semakin membuat suasana Masa Orientasi Sekolah tersebut cair.

“Semua itu sudah ditakar oleh Allah, kemampuan berfikir kita, kemampuan apa yang harus kita kuasai, semua sudah ada prosinya dari Allah. Jadi jangan iri ‘Wah si fulan masuk keagamaan, si fulan masuk ini itu, semua punya kecerdasan masing-masing ya” tutup Abah Mukhlas menjawab pertanyaan Santri baru tersebut.

Masya Allah, beliau adalah ulama yang sungguh bijaksana. Guru yang penyeimbang. Hal ini selaras dengan pemikiran mertua beliau, Alm K.H Masruri Abdul Mughni (Abah Yai).

Dikisahkan oleh para ustadz-ustadz di pondok, bahwa Abah Yai mendirikan Akademik Keperawatan (Akper) pun demikian, ingin menfasilitasi dakwah Agama Islam melalui dunia kesehatan. Dimana saat beliau dirawat di Rumah Sakit di Jakarta, beliau di rawat oleh suster-suster yang tak berjilbab, yang membawanya Al Kitab, merasa sedih, maka beliau mendirikan Akademik Keperawatan untuk menfasilitasi dakwah Islam di dunia kesehatan. Hingga saat ini Akper Alhikmah 2 masih eksis dan meluluskan perawat-perawat soleh dan sholehah.

Tak hanya itu, di pesantren Al Hikmah 2 pula para pengasuh menfasilitasi Santri-santri nya untuk belajar wirausaha, baik perikanan, pengelasan, hingga tata busana. Hal ini semata-mata menfasilitasi Santri untuk berdakwah sesuai dengan keahlian dan kemampuannya masing-masing.

Semua di fasilitas sesuai minat, bakat dan kemampuan santri-santri nya. Yang hafalannya kuat, ada pondok Hufadz untuk menghafal Al Quran, yang suka sekali dengan kitab-kitab klasik dan moderen ada Mualimim Mualimat serta MAK, yang suka dengan dunia kesehatan, ada Akper dan SMK Wicaksana, yang suka dengan dunia IT, perkantoran, hingga wirausaha pun ada.

Begitulah Abah, bak manifestasi Abah Yai Masruri Abdul Mughni, yang tidak pernah mendikte santri-santri nya, putra – putrinya untuk menjadi Ulama seperti beliau-beliau.

Menurut beliau, walaupun kita tidak harus menjadi ulama, tetapi faham agama itu harus! Apa sih agama sebenarnya? Apa sih Al Quran sebenarnya? Harus faham dari mana kita hidup, sekarang sedang menuju kemana, dan endingnya akan seperti apa

Hari ini (20/11/2020) Tepat hari ke-tujuh Abah Mukhlas, dan tahun ke-9 tahun kita ditinggalkan oleh Abah Yai Masruri Abdul Mughni. Semoga kita selalu meneladani akhlak dan segala sesuatu dari mereka berdua. Amin.

Facebook Comments

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *