Curahan Hati

Aku Iri padamu Pak

Betapa nikmatnya jadi diri seorang Bapak, ketika masa mudanya, hanya ia satu-satunya yang memiliki motor baru dikalangan teman-temannya. Tentunya dibelikan orang tuanya.

Tak seperti aku, anaknya. Yang harus susah payah menabung sendiri untuk membeli motor buntut.

Betapa senangnya jadi diri bapak, ia dengan gampang masuk di perusahaan BUMN, karena ada orang tuanya yang berperan di dalamnya.

Tak seperti aku, yang harus mengemis-ngemis, untuk mendapatkan pekerjaan.

Betapa bahagianya Bapak, menikah hingga dikaruniai lima anak, sampai aku dewasa, masih dapat subsidi dari orang tuanya.

Aku? Jangankan minta subsidi, aku dikasih pun merasa malu, diusia 20’an. Bahkan dikasih orang tua pun, seringkali aku balikan setengahnya.

Betapa nikmatnya jadi diri Bapak, DP rumah, kendaraan, perabotan rumah tangga masih banyak disubsidi sama orang tuanya.

Bagaimana dengan aku nanti? Aku akan memikul semua itu sendiri tanpa subsidi dari orang tua sepersen pun.

Betapa nikmatnya Bapak dulu, sekolah tinggal sekolah, uang saku tersedia oleh orang tuanya.

Aku? Harus berjuang melawan mahasiswa se Indonesia untuk mendapatkan beasiswa, dan uang saku? Aku harus jerih payah lembur sana sini untuk dapat jajan, bahkan untuk kebutuhan keseharian ku.

Pak, aku iri dengan segala Privilege yang engkau miliki. Tapi apa boleh buat? Jalan Tuhan, aku dan dirimu memang berbeda.

Ingin protes “mengapa? Kok seperti ini? Gak adil! Bapak punya 1001 Privilege, aku tidak!” Tapi rasanya percuma, tak bisa merubah keadaan.