“Jika kita memberi  tidak akan berkurang malah akan bertambah”

pernah mendengar kalimat yang serupa? Bagiku sangat sering bertemu dengan kalimat seperti itu.

Entah kenapa, jika ditelisik lebih dalam, di logikaku terkadang hal itu tidak masuk akal. Bagaimana tidak? Kita memberi, kita mengeluarkan uang, tenaga, dan segala lainnya, tapi kok bertambah?

Ada juga beberapa ustad yang sangat mengaung-ngauangkan keutamaan kita memberi, bersedekah.

“Jika kita mengeluarkan sekian, maka akan diganti sama Allah sekian, 7 kali, 70 kali hingga 7.000 kali lipat”

aku sebenarnya kurang sependapat tentang hal itu.

Bukan tidak sependapat dengan, dalil yang dikeluarkannya, ya aku tahu itu pada posisi Hadist, namun rasanya seperti yang diungkapkan oleh Mbah Nun, bahwa kita sekarang ini terlalu sering mencari untung, bahkan sama Allah saja kita perhitungan, kita ngasih sekian, akhirnya kita mendikte Allah, “wahai Allah aku sudah bersedekah sekian, mengapa Engkau tidak mengasihku lipatannya?” goleek untung ae. Padahal coba jika kita lihat dari sisi seberapa banyak nikmat nafas, berjalan dan melihat yang Allah berikan kepada kita dan Allah gak perhitungan tuh. Kita ini sudah menjadi kaum-kaum pencari untung memang.

Kembali ke urusan memberi. Beberapa bulan ini, rasanya aku merasakan hal yang serupa. Ya ditambah saat, aku mengeluarkan beberapa yang aku punya. Entah bagiku ini rezeki atau cobaan. Ya rezeki karena dikasih lebih, atau cobaan, apakah kedepan saat aku memberi, akan mengharap-harapkan lipatannya?

Aku lebih mudah sekali, mentraktir teman, ajak teman hangout dan aku bayarin semuanya, membayari beberapa persoalan finansial teman, menolong teman yang sedang kesusahan pulang dari suatu kota untuk berlibur (padahal waktu berlibur dia selama seminggu sama saja menghabiskan satu kali gajiku dalam satu bulan haha), hutang teman yang akhirnya dibiarin begitu saja, tanpa menagih, bahkan saat teman yang berhutang meminta ketemu untuk mengembalikan uangku. Mesti tidak pernah ketemu waktu yang tepat, dan akhirnya berucap “Ya udah gampang sob, kapan-kapan aja”. Ya mungkin utang nya enggak begitu besar, tapi bagi beberapa teman yang berstatus mahasiswa kos dan merantau itu lumayan setidaknya bisa buat makan 2-3 hari.

Tapi aneh sebenarnya, saat aku tidak begitu memikirkan keuanganku, aku biarin uang  itu mengalir untuk berbagi dan tanpa ada perasaan takut, “wah kalau gue bagi ke si A, si B, dan Si C nanti akhir bulan makan apa?” Atau berkhawatir, “nanti si A, si B gak balikin duit gue”. Pokoknya bodo amat dan coba yaudah biasa saja, Cuma berfikir “ya kali nanti gak bias makan, semut aja gak punya akal dikasih makan, ya kali nanti gak ada rezeki lagi, pastilah Allah gak biarin makhluknya begitu saja”.

Dan benar ternyata, ditengah-tengah itu entah dari mana arahnya, aku dibayarain untuk makan di café A, resto B dan C dan dapat sripilan bensin dari kantor, dan dapat job lebih dari luar, dan itu feenya bisa setengah dari gaji uang kantor sebulan. Bahkan pagi ini, aku dikejutkan dengan sms bankingku yang tiba-tiba mendapatkan uang masuk dari pemerintah, yess beasiswa cair!. Padahal baru saja awal semester lalu dana beasiswa cair, ini belom kelar semester sudah cair saja. Padahal biasanya ribetnya birokasi di pemerintahan membuat uang beasiswa super super sangat sangat lamaaaa sekalllliiiiii cairrr!, hingga seringnya aku dan teman-teman penerima beasiswa harus penanguhan ke pihak kampus.  Sepertinya bagian keuangan kampus pun paham dengan tampang-tampang kami, yang bolak balik ke keuangan untuk pengguhan uang semester.

Hm.. ini yang dinamai rezeki? Ya mungkin, Alhamdulillah. Atau cobaan? Ya mungkin, mungkin Allah pengen ngasih cobaan ke aku, apakah, aku ini bisa  selalu konsisten memberi tanpa harapan imbalan, baik dari orang maupun dari Allah yang sudah menjanjikannya.  Rasanya memang memberi itu, enggak boleh mengharapkan, apa lagi koar-koarkan (ehh beda ya, cerita yang diatas, aku ingin tahadus bin nikmah). Karena di kantor ku, aku sering sekali menemukan orang-orang hebat, yaitu memberi tanpa nama tanpa konfirmasi, dan itu nominalnya luar biasa, sepuluh juta hingga puluhan juta, heran sih yang aku rasa awalnya. Tapi seiring waktu berjalan, ternyata ya itu yang terbaik.

Duh, cukup melebar ini pembahasannya, saatnya closing statement wkwkw

Jadi intinya bagiku, memberi itu gak harus ada iming-iming imbalan A, B dan C, ya kalau emang akhirnya kita dapat A, B dan C yaudah itu bonus.  Sudah saatnya  memberi itu gak harus nunggu kaya, karena gak heran kalau yang kaya yang memberi, yang heran itu gak kaya tapi memberi. Kalau kata Mbah Nun, semua didunia ini kita hanya dititipin, jadi seyogyanya akal, pikiran dan hati kita tidak berfokus melulu tentang uang. Karena derajat uang ada dibawah kita. Kita yang musti dikejar-kejar uang, bukan sebaliknya. Kalau kita tidak sibuk pikiran, hati dan akal untuk uang, maka potensi uang mengejar-ngejar kita lebih besar dari pada kita sibuk memikirkan uang. Dan perlahan aku sudah membuktikan itu 🙂

Facebook Comments