“Muslim kaya bersyukur lebih baik, lebih dari pada Muslim miskin bersabar” – Dr Muhammad Syafii Antonio M. Ec

Beberapa bulan lalu aku sempet membuat video quotes pendek tentang apa yang di utarakan oleh guruku, Pak Syafii. Buat yang belum tahu bisa lihat videonya di sini 

Setelah aku posting dibeberapa akun sosial mediaku, and finally ada beberapa  teman yang menjawab dan merespon, ada respon bagus (entah sesungguhnya yang bagus itu videonya atau quotesnya)  dan ada yang memiliki pandangan lain dari quotes yang disampaikan tersebut.

Everyone can have a point of view, ya setiap orang itu memiliki cara padangannya masing-masing, cara berfikir masing-masing. Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk berfikir seperti apa yang kita mau. Karena sejatinya kebenaran adalah dinamis, ia memiliki ruang sudut pandang yang berbeda-beda tergantung dari setiap orang yang melihat kebenaran tersebut. Kita ambil contoh, Islam. Islam itu sudah ada tuntunanya, Allah dan Rasul sudah memberikan jalan-jalan kebenaran. Namun, bisa kita lihat ada banyak madzhab, so it’s no problem karena  semua madzhab itu benar sesuai dari sudut pandang tidak ada yang salah, yang salah itu untuk orang-orang yang belum mengerti tetang konsep perbedaaan.

Oke back to topic, disini aku pengen mengutarakan dan mencoba merinci apa maksud quotes diatas, meski bukan aku yang mengeluarkan pemikiran tentang quotes tersebut. Tapi aku sepakat akan hal itu, jadi aku ingin mengulik sedikit.

Menurutku dan beberapa guruku, baik ulama-ulama pesantren  maupun akademisi sekolah atau perkuliahan. Allah menguji hambanya lewat harta ada dua macam. Pertama diberi ujian kemiskinan, kedua, diberi ujian kekayaan. Orang yang diuji kemiskinan dan ia sabar, ia dapat bertahan dengan ujian tersebut sanggatlah banyak yang berhasil. Namun,  sesunggunya terkadang harta yang kita miliki, yang orang lain menyebut kita sebagai orang kaya, banyak yang akhirnya tergelincir. Aku jadi ingat nasihat salah satu guruku K.H Rosyidi disela-sela pengajian bandongan kitab kuning

“kalau mau bener-bener menguji iman seseorang, coba beri ia uang dan kekayaan yang banyak, maka akan terlihat imannya yang sesungguhnya”

Disisi lain, aku memiliki sudut pandang bahwa orang yang diuji dengan kemiskinan dan ia dapat sabar. Kesabaran yang ia miliki hanya untuk dia seorang, efek spiritualnya hanya ia seorang  yang akan mendapatkannya. Namun berbeda dengan orang kaya dan bersyukur, efek spiritual bukan hanya ia yang mendapatkan efeknya, melainkan akan berantai kemana saja ia mengalirkan rasa syukur tersebut. Ia akan dermawan kepada siapa saja, dapat membuat program-program yang lebih besar untuk kemaslahatan ummat.

“Emang orang miskin tidak bisa dermawan?” orang miskin juga bisa dermawan, Cuma aku rasa kedermawanannya tidak akan melebihi orang kaya bersyukur. Karena meski di dunia ini tidak bisa diihat dari uang, tapi semuanya yang ada di dunia ini butuh uang (Nah loh bingung)

Contoh simpelnya orang yang miskin bersabar, ia bersabar dengan keadaan rumah yang sempit, pendapatan yang pas-pasan, meski ia berbagi ilmu ke anak-anak yang belajar Al Qur’an ke dia, namun terhalang dengan kondisi rumah, kondisi finansial yang tidak mencukupi. Ia bersabar dengan kondisi itu, ia tidak bisa menjalankan rukun islam dengan sempurna no 4 dan 5, Zakat dan Haji karena satu faktor ia tidak mumpuni yaitu sisi finansial.

Lain halnya, dengan muslim kaya bersyukur. Ia memiliki banyak harta, akan ada kewajiban yang dikeluarkan oleh dia yaitu zakat, sehingga banyak mustahik (orang yang berhak menerima zakat) dapat terbantukan, ia bersukur dengan segala harta dan ilmu yang ia miliki, dapat membuat majelis-majelis pengajian, masjid dan program-program lainnya guna memberi efek kemanfaatan yang luas terhadap umat. Hal itu, didasari oleh satu faktor yaitu kaya dan ia bersyukur.

Ya gitulah pendapatku tentang quotes diatas. Perlu digaris bawahi adalah miskin bersabar dan kaya bersyukur sebagai perbandingannya, bukan sisi ikhlas atau lain halnya.  Maybe ada beberapa temen yang tidak setuju atau ada pandangan lain tetang hal itu, no problem, karena perbedaan itu rahmah. Dan Allah mau kita berbeda

Facebook Comments