“Zis, mba dinten niki bapak gajian” (Zis, mba hari ini bapak menerima gaji). Sahutan ibu mengingatkan dipagi hari sebelum aku dan mba ku pergi untuk menuntut ilmu ke sekolah. Wajah kami seketika yang muram karena malu belum bayar SPP, berubah menjadi penuh ceria dan senyum, “besok kita bayar spp” kiranya kalimat itulah yang terbayang dibenak kami. Selain tersenyum ceria karena akan lunasnya biaya sekolah kami, kami di setiap tanggal 25 biasanya akan makan enak berempat di siang atau malam harinya.

Ya ditanggal 25 ini lah bapak yang bekerja sebagai buruh di pabrik gula milik Pemerintah mendapatkan upah hasil jerih payah keringatnya dalam satu bulan. Meski sering kali ditengah bulan uangnya sudah habis atau menipis, tapi aku selalu senang dengan datangnya tangal 25. Menurutku ibu pun demikian, sepulang dari pabrik bapak biasa membawa satu karung beras, gula, serta makanan, untuk kebutuhan dapur dan terkadang pula ada pakaian yang diambil dari koperasi karyawan untuk kami kenakan.

Ah masih terngiang rasanya baru kemarin aku, mba, ibu dan bapak menikmati bersama-sama hasil gajian bapak, Tak disangka waktu cepat berlalu, dari jam ke hari, hari ke minggu, minggu ke bulan, bulan ke tahun. Bapak sudah meninggalkan kami dua tahun terakhir dan besok tanggal 31 adalah tepat dua tahun bapak sudah menghadap sang Illahi.

Dua Puluh Lima, ternyata ditanggal itu bukan cuma tanggal gajian Alm Bapak. Seakan menjadi rekarnansi aku pun demikian. Ditanggal 25 lalu, aku yang berkuliah sambil kerja di perusahaan yang bergerak dibidang sosial menerima gaji. Sebulan dengan gaji yang cuma pas-pasan, dan sering kalinya seminggu sudah ludes. Namun, tak menyusutkan aku dari mensyukurinya ditanggal 25 ini. Alhamdulillah dengan gaji dan uang beasiswa yang seadanya, tadi pagi tepat tanggal 26 Januari, dimana tanggal itu pada dua tahun lalu aku pergi ke Semarang guna menebus obat kanker yang bapak derita. Kuniatkan pergi ke pusat elektronik disalah satu mall di kota hujan, Bogor.

Syukur ku ucap, aku merasa senang dengan kembali dapat membeli laptop, yang enam bulan lalu lenyap berpindah tanggan di bus saat menuju Ibu kota Metropolitan, Jakarta. Ya meski mungkin tergolong laptop yang murahan, yang mungkin lavelnya ada dibawah jauh dari teman-teman kelas. Tapi aku tetap bangga, dan bersyukur karena dapat membelinya dari hasil keringat ku sendiri, aku bangga yang dapat membelinya dari hasil upah lembur dua sampai tiga hari full, tanpa tidur, dan terkadang setelah lembur malah tak berangkat kerja dan kuliah karena jatuh sakit.

Bapak, seadainya engku masih didepan mataku, aku ingin menjawab nasihat engkau saat mampir di bunga tidurku waktu itu, sembari mencium tanganmu, menangis dalam pangkuanmu seraya berkata kepada engkau.

“Iya pak, mencari uang itu susah, Azis sekarang merasakannya, betapa lelah, betapa capeknya mencari uang untuk kebutuhan. Terimakasih pak, 18 tahun yang lalu engkau mampu dan mau memberikan nafkah, memberikan sesuap nasi kepadaku kepada semua anggota keluragamu dengan ikhlas. Maafkan anakmu pak, yang dulu suka mengeluh saat makan cuma berlauk tempe, dan kecap saja. Azis cinta bapak”.

 

 

Facebook Comments