10559960_893584624004247_6902482101954517400_n                Lukisan disebalah kanan ku adalah lukisan yang berjudul “Topeng” karya Hasan Bisri, pelukis asal Brebes yang sudah melalang buana didunia seni lukis. Berlokasi di Jalan Sibiyuk, Jatibarang Brebes, bengkel Sang Pengembang Layar ini mampu menghipnotis siapapun yang memasukinya dengan kedamaian. Entah karena mantra yang tergores di layar kanvasnya, atau sihir ketenangan yang menyeruak dari taman di balik bingkai jendela.

 

 

Berpuluh – puluh lukisan berada di gallery beliau, tapi entah mengapa aku lebih memilih lukisan ‘topeng’ ini untuk dijadikan teman mejeng berfoto bareng. Aku rasa lukisan ini memiliki nilai – nilai kehidupan tersendiri yang dapat ku ambil pelajarannya. Saat ditemui dikediamanya, beliau sempat menjelaskan apa arti lukisan topeng tersebut.

“Jadi lukisan ini, saya buat dengan melihat kondisi dizaman sekarang. Hampir semua orang menggunakan topeng dalam kehidupannya. Mereka berbuat baik ternyata hanya topeng, mereka berbuat buruk ternyata ada topeng yang dikenakannya”.

 

Iya topeng, hampir semua orang menggunakan topeng. Saat masa kampanye pemilihan wakil rakyat, para calon wakil rakyat bermulut sangat manis, memberi janji – janji yang sungguh menghiurkan, mencuri hati rakyat sehingga mereka dipilih. Namun setelah mereka manjadi wakil rakyat, janji tinggal lah janji yang tak kunjung ditepati. Bukannya menyenangkan hati rakyat, malah membuat benci rakyat.

 

Menurutku tak selalu orang mengenakan topeng identik dengan topeng baik saja. Terkadang beberapa orang dengan sengaja memasang topeng buruk dalam kehidupannya. Ingat kah kalian sobat ? saat beberapa waliyullah bergaul dengan para preman bahkan pemabuk. Para kekasih Allah ini berpenampilan sangat buruk, mengenakan baju orang – orang jalanan, bergaul dengan alcohol, setiap malam pergi ke bar, seakan jauh sekali dari nilai Islam. Tapi tahukan kalian sobat ? para waliyullah ini hanya menggunakan topeng buruk semata, jika kalian tahu dibalik topeng yang dikenakannya, maka sungguh kalian tak akan sanggup betapa silaunya Nur yang mereka pancarkan. Mereka memang berdakwah dengan jalan seperti itu. Kita orang awam, hanya bisa mencelanya tanpa tahu apa yang ada dibalik topengnya. Kita juga tak pernah tahu, betapa banyak orang – orang yang terjerumus melalui jalan seperti itu, kemudian diselamatkan oleh para waliyullah. Diselamatkan kembali kepada tuntunan NYA

 

Lukisan topeng ini, seakan – akan  selaras dengan perkataan sohabat Ali bin Abi Tholib r.a.

 

“…. Aku khawatir dengan suatu masa yang rodanya dapat menggilas keimanan. Keyakinan hanya tinggal pemikiran, yang tak terbekas dalam perbuatan. Banyak orang baik tapi tak berakal, ada orang berakal tapi tak beriman. Ada lidah fasih tapi berhati lalai. Ada yang khusyuk namun sibuk dalam kesendirian. Ada ahli ibadah namun mewarisi kesombongan iblis. Ada ahli maksiat rendah hati bagai sufi. Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat. Ada yang banyak menagis karena kufur nikmat. Ada yang murah senyum namun hatinya mengumpat. Ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut. Ada yang berlisan bijak namun tak memberi teladan. Ada pezina yang tampil menjadi figure. Ada yang punya ilmu tapi tak paham. Ada yang paham tapi tak menjalankan. Ada yang pintar tapi membodohi. Ada yang  bodoh tapi tak tau diri. Ada orang beragama tapi tak berakhlak. Ada yang berakhlak tapi tak berTuhan. Lalu, diantara semua itu, dimana aku berada ?!”.

 

Jadi, lukisan topeng ini sebuah penggambaran apa yang dikatakan oleh sohabat Ali bin Abi Tholib r.a yang hidup ratusan tahun lalu dan terjadi saat ini. Semoga kita semua terhindar dari topeng yang baik, yang hanya baik diluar. Namun aku juga tak memaksa sobat untuk mengenakan topeng yang buruk.

Eits., jangan lupa sob, kita harus tetap hati – hati dengan orang disekitar kita, walau dia baik banget sama kalian tapi tetep kudu hati – hati. Bukannya saya mengajarkan Suudzon, tapi kita harus hati – hati ajah. Toh gak ada salahnya kita berhati – hati. Dan jangan lupa pula, kalau ada orang disekitar kita yang cukup bersikap aneh, atau jelek. Jangan terlalu cepat kita mengambil cap buruk pada orang tersebut, ya barang kali saja mereka cuma mengenakan topeng. Intinya sich., jangan terlalu cepat menilai orang dari luarnya saja.

Facebook Comments