Pendidikan kata yang utama saat kita terlahir didunia ini, yang sangat penting dan hal yang harus diperoleh setiap individu. Pendidikan tak selalu berbau dengan bangku sekolah, buku – buku tebal, dan lain lain, seperti tulisan yang pernah saya bahas sebelumnya di sini. Iya pendidikan adalah sebuah sistem, sistem yang akan merubah kehidupan kita. Melalui pendidikan kita mengerti dan mengetahui apa yang belum kita mengerti dan mengerti apa yang belum kita ketahui.

 

Sekali lagi pendidikan adalah hal yang terpenting. Bahkan islam pun memerintahkan umatnya untuk berpendidikan. Ingat kah ayat yang pertama kali turun dimuka bumi ini, yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW ? Iqro. Ya, Iqro, bacalah ! membaca adalah hal yang  pertama Allah perintahkan kepada hambanya. Bukan amalan Ubbudiyah seperti Sholat, Zakat, Puasa dan lain lain. Melainkan perintah untuk membaca. Arti membaca  dalam hal ini tidaklah kontekstual saja, kita disuruh membaca buku – buku tebal kita, bukan seperti itu saja. Namun, mambaca keadaaan lingkungan sekitar, mambaca isyarah ayat alam raya ini, membaca apa yang sedang terjadi, membaca dan membaca semua yang dapat kita baca, yang tak hanya bersifat tulisan dibuku saja.

 

Lalu kenapa Allah memerintahkan kita untuk membaca sebagai hal yang paling pertama dan utama ? karena dengan membaca kita menjadi makhluk yang berpendidikan, setelah menjadi makhluk yang berpendidikan kita pun dapat melaksanakan amalan – amalan ubbudiyah lainnya seperti Sholat, Puasa, Zakat dan lain lain. Karena tak sah suatu amal seseorang jika dilakukan dengan tanpa ilmu.

Dalam menuntut ilmu guna menjadi mahkluk yang berpendidikan kita memerlukan guru. Saat nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama pun, beliau diajarkan oleh malaikat Jibril. Tak akan lepas nama seorang guru dari pendidikan, semua orang yang menuntut ilmu pasti membutuhkan guru untuk mengajari kita.

 

Saat kita baru terlahir dalam dunia ini, guru yang paling utama adalah keluarga kita, terutama ibu kita. Kemudian kita beranjak disebuah pendidikan yang bersifat formal, SD, SMP, SMA kemudian Kuliah.

 

Guru adalah pelita kita, menurut filosofi jawa kata guru adalah kepanjangan dari “Digugu lan ditiru”  ya digugu artinya dibetulkan atau dibenarkan dalam diri kita, kemudian kata kedua adalah ditiru, setelah kita membenarkan apa yang diajarkan oleh guru kita, kemudian kita menirunya. Meniru tingkah lakunya, meniru ilmunya, meniru semuanya yang baik dalam guru kita.

 

Guru sangat berpengaruh besar akan maju dan mundurnya suatu bangsa. Ingatkah saat Jepang dibom oleh sekutu ? lalu lihat sekarang, betapa majunya Jepang setelah dibom oleh sekutu pada tahun 1945. Seharusnya Indonesia bisa lebih maju dari pada Jepang, kenapa ? pada tahun yang sama yaitu 1945 Indonesia merdeka, tak ada penjajah sedangkan negara Jepang di tahun 1945 juga, negara mereka porak poranda, hancur oleh sekutu. Tapi kenapa negara mereka lebih maju ? dibanding Indonesia ? hal ini disebakan oleh guru. Setelah Jepang dibombandir dengan bom nuklir, pemerintah Jepang langsung mencari guru yang tersisa di negaranya.

 

Guru, lagi – lagi ’guru’ hal yang sangat terpenting dalam sektor pendidikan. Di Indonesia masih banyak guru yang sangat kurang dari kesejahterahannya. Di Pandeglang, Banten, guru honorer hanya digaji Rp. 60.000 / bulan. Dan gaji tertinggi untuk guru honorer ada di DKI  Jakarta itupun dibayar Rp 300.000 / bulan (sumber : berita Seputar Indonesia RCTI). Miris memang.

 

            ” Guru yang mencerdaskan bangsa dibayar rendah. Sedangkan artis yang merusak akhlak bangsa dibayar sangat tinggi”.

 

Sebuah ironi memang. Saya sempat berfikir hal itu sungguh sangat tak adil, dimana guru yang mencerdaskan bangsa dibayar sangat rendah, sedangkan artis yang merusak moral bangsa dibayar sangat mahal. Hal ini yang membuat saya memulai untuk berdiskusi dengan guru – guru saya di Al Hikmah 2 melalui sosial media facebook.

 

Diskusi ini cukup menarik memang. diskusi dimulai dengan komentarnya Pak Negus yang pada awalnya hanya memberikan senyuman saja. Lalu dilanjutkan penjelasan beliau ”Tak perlu banyak berkomentar, semua orang pasti sudah tahu jawabanya seperti apa, termasuk Azis” tutur guru yang baru menikah bulan lalu 🙂

 

Kemudian dilanjutkan dengan argument dari Pak Mustolah ”Kalau semua yang dilakukan seseorang harus dihargai dengan uang, lalu apa yang kita tabung untuk di akhirat kelak ?”. ”Yang salah adalah faham materialistis, semuanya dihargai dengan uang ” Imbuh guru yang sedang mengambi CSSmora UGM di Al Hikmah 2.

 

”Guru digugu karo ditiru. Anak didik akan mendengarkan dan mencontoh perilaku guru yg baik2. Guru yg baik pakai baju yg sopan menutup aurat. Makanya tdk mau buka2 an pakai bajunya krn takut yg kuasa akan melaknat nya. Krn artis berani berbuat menentang akidah dlm agamanya, tdk takut masuk neraka…walaupun gaji sedikit berkah dunia akherat.” tambah argument dari Bu Heri Trainingsih selaku kajur produksi di BBAT Malhikdua.

 

Langsung terpikir dengan cepat dalam otak ini,  sungguh sangat disayangkan pelajar negara kita banyak sekali meniru artis yang notabene tak patut ditiru. Jarang sekali pelajar meniru para guru – guru yang baik untuk dijadikan pedoman hidup.

 

Namun, hal yang  terpikirkan dalam otakku langsung dijawab jelas oleh Pak Negus ” Barang apik kuwe angel gawene ziz, nek barang elek ya kabeh wong bisa gawe. Masih ingat sama om aziz yg melukis ? ya bayangkanlah sendiri. Hanya yg memiliki jiwa seni dan mendalami hal tsb yg bisa menirunya”.

 

Jadi yang terpenting  didiri  kita adalah keberkahannya, bukan banyaknya. Karena banyak mundah sekali dicari dan didapat, namun yang susah adalah keberkahanya. Seperti ngendikonya Gus Mus yang di kutip oleh Bu lik Dini Afiati ”Jangan mencari BANYAK, carilah BERKAH. BANYAK bisa didapat dengan hanya MEMINTA tapi MEMBERI akan mendatangkan BERKAH”.

 

Diskusi kecil – kecilan ini akhirnya berakhir dengan argument terakhir dan sebagi kesimpulan dari diskusi oleh Pak Mustolah.

 

” Mengajar adalah sebuah pengabdian yang dilakukan untuk kemanfaatan bagi orang lain. Konsep pengabdian adalah memberikan sepenuhnya apa yang dimiliki tanpa mengharap secara utuh (di dunia) dari apa yang diberikannya. Namun, guru juga manusia biasa yang membutuhkan kesejahteraan hidup, sehingga perlu ada perhatian khusus dari pemerintah terkait hal ini. Pada pemerintahan Presiden Abdurrohman Wahid kesejahteraan guru mulai diperhatikan dengan cara menaikkan gaji guru. Hingga saat ini kita tau sudah berjalan program-program untuk kesejahteraan guru dengan adanya Tunjangan Fungsional dan Sertifikasi bagi guru yang sudah mengabdi sekian tahun. Tetapi yang masih menjadi PR pemerintah adalah kesejahteraan guru-guru honorer, rata-rata gaji mereka jauh dibawah UMR. Ini perlu ada kebijakan khusus dari pemerintah terkait hal ini dan secara internal perlu ada kepedulian dari sekolah tempatnya mengabdi.

Lha..trus gimana guru bisa kaya raya ?? Rosululloh SAW sudah memberikan sinyal kepada kita bahwa 9 dari 10 pintu rezeki adalah perdagangan. Dimana-mana konglomerat itu ya pedagang yang menjual barang, tenaga atau jasa. Artis menjadi kaya karena menjual kemampuannya dalam bidang seni, musik, drama, modelling, dll dan dibayar mahal oleh SPONSOR. Sedangkan guru seharusnya niatan awalnya bukan MENJUAL ilmu, sehingga tidak mengharap kaya raya dari mengajar. Jika ingin menjadi guru harus siap hanya sampai pada taraf “sejahtera” tetapi bisa memberikan kemanfaatan secara langsung. Jika ingin kaya raya, maka berdaganglah! Tetapi masih harus mencari kemanfaatan dirinya dengan mendonasikan hartanya sesuai dengan azas kemanfaatan.”

 

 

So, menurutku adalah mengajar adalah sebuah bentuk pengabdian kita, bukan dijadikan sebagai profesi. Jika kita ingin kaya raya jangan cari duit dari mengajar kita. Kita dapat mendapatkan uang lebih banyak dengan cara berdagangan sesuai yang didawuhkan oleh Rasulullah.

Facebook Comments