Indonesia merupakan negara beranekaragam adat dan kebudayaannya, hingga saat detik  ini negara Indonesia masih dikenal oleh  negara lain sebagai negara yang berbudaya ketimuran yang identik dengan sopan santun dan keramah tamahannya. Jumlah kebudayaan Indonesia sendiri hampir tak bisa kita hitung, itulah yang membuat lahirnya “Bhineka Tunggal Ika”  yang bererti meskipun berbeda-beda Agama, Suku, ras, dan budaya tetapi tetap satu jua, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Banyak  perbedaan yang terdapat di Negara Indonesia ini, Agama, ras, suku, budaya, hingga bahasa yang berdialek sesuai dengan daerahnya masing-masing. Meskipun terjadi perbedaan diantara penduduk Indonesia, rasa toleransi antar umat beragama sangatlah erat terbukti tempat peribadatan antara agama yang satu dengan agama yang lain terletak berdekatan. Dalam UUD 1945 dinyatakan bahwa “Tiap-tiap penduduk diberikan kebebasan untuk memilih dan mempraktikkan kepercayaannya” dan “menjamin semuanya akan kebebasan untuk menyembah, menurut agama atau kepercayaannya”.

Agama di Indonesia sendiri terbagi menjadi enam kepercayaan yang dianut oleh penduduk  Indonesia, diantanya yaitu Islam, Kristen Protesta, Kristen Katolik, Budha, Hindu, Khonghucu. Seperti yang dijelaskan pada No. 1 Tahun 1965 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama pasal 1 yang ditetapkan oleh Presiden.

Di Indonesia sendiri, agama Islam menjadi salah satu agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia. Meskipun jauh dari negara asal agama Islam, namun penduduk yang menganut agama Islam di Indonesia sangatlah besar, yaitu sekitar 12,7 % dari total Muslim dunia. Pada tahun 2010, penganut Islam di Indonesia sekitar 207 juta jiwa atau 87,18% dari jumlah penduduk. Dibandingkan dengan agama lain seperti Kristen Protestan sebanyak 6,96 %, Kristen Katolik 2,9%, Hindu 1,68%, Buddha 0,72%, Kong Hu Cu 0,05%, agama lainnya 0,13%, dan 0,38% tidak terjawab atau tidak ditanyakan.

Agama Islam di Indonesia sendiri menyerap ke seluruh lapisan masyarakat. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor diantaranya yaitu unit pendidikan. Unit pendidikan di Indonesia sangatlah beragam dari pendidikan kanak-kanak hingga unit pendidikan perguruan tinggi.

Proses pendidikan tak ubahnya dijadikan sebagai masalah yang remeh, pendidikan ini sangat berpengaruh dalam daya kembang tumbuh seseorang. Dalam tingkatan pendidikan pemerintah Indonesia menggolongkannya menjadi lima golongan yaitu golongan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menegah dan perguruan tinggi.

Pendidikan menegah, dari lima golongan yang dirumuskan oleh pemerintah Indonesia, pendidikan menegah sangatlah berpengaruh besar dalam tingkatan belajar seseorang. Hal ini, berkaitan dengan usia seseorang yang mengenyam pada pendidikan menegah rata-rata 14 – 18 tahun. Pada usia ini, seseorang sedang memasuki wilayah peralihan dari masa remaja akhir menuju ke tingkat kedewasaan yang lebih matang.

Dalam peralihan masa remaja akhir menuju ke tingkat kedewasaan, sangatlah berhubungan erat dengan pola pikir seseorang. Di masa ini seseorang sedang mencari jati dirinya sendiri, dan  Sangatlah disayangkan jika pada masa ini seseorang salah memilih jalur yang benar, yang tidak sesuai dengan  norma agama dan kebudayaan orang Indonesia.

Pendidikan menegah yang ada di Indonesia sendiri beragam, Sekolah Menegah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), dan Sekolah Menegah Kejuruan (SMK). Dari kesemua unit pendidikan ini, Madrasah Aliyah (MA) lah yang seharus mampu memberikan nilai-nilai akhlaq dan moral.  Tetapi realita pada lapangan itu sendiri, hanyalah seglintir Madrasah Aliyah yang dapat mengkaderkan jebolannya di persaingan globalisasi ini.

Di era globalisasi ini Madrasah Aliyah tak ubahnya tidak hanya melahirkan generasi-generasi yang hanya memahami nila agamis saja, melainkan harus lah melahirkan generasi-generasi kompeten yang dapat bersaing di era globalisasi ini. Alasan itu juga yang digunakan oleh orang tuan enggan menyekolahkan anaknya di Madrasah Aliyah.

Madrasah Aliyah seakan menghilang dari jati dirinya, sekolah yang seharusnya mencetak dengan unggulan keagamaannya. Seakan berbelok arah menjadi sekolah yang mengutamakan pendidikan umum saja. Agama hanyalah sebuah simbol saja, para siswa Madrasah Aliyah seakan sangat lah rapih dalam berpakaian ala Islam, tetapi akhlaq dan moral mereka tak jauh beda dengan orang-orang yang tidak pernah memakan bangku sekolah.

Kemanakah jati diri Madrasah Aliyah sebenarnya ? Akankah Madrasah Aliyah hilang jati dirinya ? Sungguh ironi besar untuk negara ini, sekolah yang seharusnya dapat mencetak generasi-generasi yang berkompeten di era globalisasi dan tetap mempertahankan kebudayaan, adat istiadat negara Indonesia sebagai negara ketimuran. Tak sanggup membendung arus globalisasi yang dibawa oleh negara-negara Barat.

Ini lah tugas dan PR berat kita, saat ini Indonesia  tengah masuk krisis akhlaq dan moral. Indonesia yang dikenal sebagai Negara yang penuh dengan sopan santun dan keramah tamahannya akhir-akhir ini mengalami pengikisan akhlaq dan moral. Siapakah yang akan bertanggung jawab dengan keadaan ini? Tentunya adalah kita semua selaku warga Negara Indonesia. Kita haruslah bangga akan kebudayaan kita sendiri, yang berkiblat kepada kebudayaan Timur bukanlah ikut menjiplak kebudayaan Barat yang tidak sesuai dengan norma Negara kita.

Saat kebudayaan luar masuk ke negara kita, kita haruslah menyikapi dengan  kritis. Kita tak boleh megambil semua yang masuk ke dalam lingkungan kita, tanpa kita mempertimbangkan baik dan buruknya. Untuk menjaga keutuhan kebudayaan kita ini, perlu lah saling keterkaitan antara Pemerintah, lingkungan masyarakat, keluarga dan tentunya diri kita sendiri.

Facebook Comments