Category

Uncategorized

Sinau, Uncategorized

Dari APBN untuk Terciptanya Generasi Emas Indonesia

Indonesia adalah negara yang besar dengan jumlah penduduk mencapai 253.609.643 juta jiwa. Negara ini menjadi peringkat ke-4 dalam jumlah penduduk paling padat di dunia. Jumlah penduduk yang tinggi, menimbulkan beberapa permasalahan, salah satunya yakni terjadinya ketimpangan sosial. Terkhusus ketimpangan sosial dalam aspek ekonomi, dengan terlihatnya perbedaan jauh antara keuangan orang kaya dengan keuangan orang miskin. Mengapa masyarakat bisa mengalami ketimpangan sosial antara si miskin dan si kaya ? Salah satu faktornya adalah tingkat pendidikan yang rendah.

Menurut Prof. Akhmaloka rektor ITB periode 2010-2014 mengatakan 70 persen SDM Indonesia baru memiliki pendidikan sampai jenjang pendidikan dasar. SDM Indonesia yang memiliki pendidikan menengah sebanyak 22,40 persen, dan untuk perguruan tinggi sebanyak 7,20 persen, sisanya 0,4 persen adalah mereka yang tidak mengenyam pendidikan.

Read more

Uncategorized

Ku Tak Perlu

Perlukah meluapkan semuanya. Betapa dinginnya kehidupan ini. Hujan yang menguyurkan rasa. Bumi yang menjadi tipakan. Langit yang ku jadikan atap.  Rasa ini, jiwa ini tak ada yang akan mengerti.
 
Perlukah menceritakan semuanya. Beban yang kuangkat selama ini. Begitu membebankan pundak. Andai kau tau. Hampir ku tak sanggup. Sungguh tak sanggup.
 
Perlukah aku berandai. Berandai menjadi bintang. Sinarnya sungguh indah.  Memancarkan ke bumi. Menjadi teman setiap insan saat terlelap dalam mimpi. Achh., Bintang hanya muncul ketika malam saja.
 
Perlukah aku menjadi Matahari. Sinar yang menyambut insan ketika pagi datang. Menjadi teman seluruh makhluk saat beraktifitas. Tak kan merasa lelah untuk menghangatkan bumi. Namun dia hanya berteman saat pagi hingga gelap datang.
 
Ku tak perlu semua itu. Omongan yang membuat hati berderah, sungguh tak perlu. Ombak tak bisa diubah. Namun ku dapat mengendalikan layar. Perahu ini kan berlabuh kelak. Dilabuhan yang membahagiakan. aminn
Uncategorized

Kesederhanaan lah.,

Indonesia sekarang memasuki masa pemerintahan bapak Presiden Jowo Widodo atau yang akrab dipanggil dengan Pak Jokowi.

            Sedikit flashback sebentar sebelum saat masa masa peraliahan, yaitu disaat detik detik akhir Pak SBY menjabat menjadi Presiden. Ada yang menarik disini, saat ternyata kemenagan diraih oleh kubu Indonesia Hebat. Ya.., Pak Jokowi akhirnya menang dalam pemilihan umum kali ini, dan resmi menjadi pemimpin bumi pertiwi, Indonesia.

            Berjuta sebab pak Jokowi menang dalam pemilu kali ini, selain mendapatkan perolehan suara terbanyak. Salah satunya kesederhanaan beliau lah, yang menjadi daya pikat masyarakat Indonesia. Sederhana, satu kata yang kali ini kita akan bahas bersama.

            Ketika beberapa orang berebut rebut manjadi seorang miliader, kemudian memiliki mobil mewah, rumah yang megah dan tak kentinggalan pula, istri yang cantik hehe 😀 . Dan segudang keingginan orang dan berlomba lomba untuk dapat hidup mapan dengan fasilitas yang mewah.

            Namun disisi lain pula terdapat beberapa orang yang meskipun termasuk orang yang berkecukupan enggan mengunakan kecukupan tersebut dan memilih untuk hidup sederhana.

                                                                   Read more

Uncategorized

Pendidikan Formal itu Cuma Sebuah Sistem Ko

Minggu minggu baru ini, Indonesia telah melantik  kabinet di masa khitmad pemerintahan presiden Joko Widodo – Jusuf Kalla. Kabninet kerja, begitulah nama yang diberikan pada kabinet ini. Nama tersebut dipilih dan disahkan pula oleh Bapak presiden ke tujuh, Jokowi Dodo.

Setelah mendengar berita tentang kabinet kerja, dengan sepontan  rasa penasaran di kepala muncul untuk mengetahui siapa tokoh tokoh yang berhasil mengelar jabatan mentri ini. Susi Padjiastuti nama mentri yang pertama membuatku untuk menulusuri biografi sang ibu mentri, menginggat gelar Kementrian Kelautan dan Perikanan yang disandangnya. Karma dulu semasa masih duduk dibangku SMA, aku merupakan anak perikanan.

Sebelum menelusuri biografi bu Susi, dibayangkan ku sudah membayangkan pendidikan yang dulu pernah dicapainya. “Mungkin dia lulusan cumload mahasiswa PTN yang terkenal di Indonesia, kemudian melanjutkan  S2 nya di luar negri sana dan bla., blaa., bllaaa., yang berkaitan dengan pendidikan intelektualnya, pikirku.

Read more

Uncategorized

Kemanakah Hafalan Mereka ?

“Saya cukup perihatin saat banyak orang menghafal Al Qur’an tetapi, akhlak perilaku tindak tunduk, bahkan ibadahnya pun tak menunjukan qur’aninyah”

Kalimat itu tiba tiba kembali teringat dalam benakku. Abah Mukhlas yang dawuh seperti itu. Hmm., memang setelah ku melepaskan ragaku dari penjara suci Al hikmah 2. ku temukan buktinya, ku menemukan hal hal yang didawuhkan Abah saat pengajian tafsir Jalalaen itu.

Sekarang rata rata orang mulai berbondong-bondong mencoba manghafalkan kallam Ilahi, tapi entah dimana jiwa qur’ani mereka ? dimana pula amalan-amalan yang seharusnya dilakukan oleh mereka ? seakan mereka jauh dari apa yang dihafalkan. Bukan berarti menghafalkan Al qur’an itu sesuatu hal yang tak baik atau sebuah kejelekan. Tatapi apa yang mereka perbuat tak sama dengan apa yang mereka hafal, sungguh ironi.

Hal itulah yang masih membuatku merasa menganjal dihati saat hendak menghafalkan Al Qur’an. Selain merasa tak sanggup untuk menghafal, pertimbangan untuk menjaga hafalanpun sampai saat ini ku rasa aku belum sanggup. Tetapi tidak semua hafidz atau hafidzoh berperilaku seperti yang diatas, ada pula yang mengahfal dan mengamalkan kalam sang Illahi.

”yang terpenting itu, bagaimana kita mencoba mengamalkan isi Al Qur’an nya bukan hanya sekedar hafal. Kalau hanya sekedar menghafal itu gampang, yang sangat susah adalah mengamalkannya”.

Read more

Uncategorized

Pemuda Islam Kota dimanakah Kalian ?

Suatu malam yang riuk pikuk di tanah perkotaan, Tangerang. Saat sebuah penantian sang Asatidz setoran hafalan Al Qur’an untuk kami anak anak Rumah Tahfidz Indonesia. Tak menyangkan akan kedatangan tamu yang tak kami duga, bukan Ustad Yusuf Mansyur sang Owner PPPA Darul Qur’an, bukan Rektor kampus kami bahkan bukan pula Asatidz yang menerima setoran hafalan kami. Melainkan seorang jamaah Masjid Assalam, seorang jama’ah laki laki yang biasa mendirikan sholatnya di masjid yang hanya terletak sepuluh langkah saja dari Rumah Tahfidz kami.

Pak Arif sebut saja nama bapak tersebut, bapak yang sudah memasuki umur berkisar kepala empat itu, tiba tiba berselitahurahim ke asrama kami. Memberikan jabat tangannya kepada kami satu persatu, kami sempat dibuat binggung oleh beliau. Dalam pikiran kami mungkin orang ini yang akan menjadi Asatidz untuk hafalan kami. Namun, apa yang kami pikirkan ternyata salah besar. Beliau hanya jama’ah Masjid yang selalu mendirikan tiang agamanya disamping asrama kami, Masjid Assalam.

Read more

Close