Semester depan dikampusku merupakan masa-masa penentuan, untuk mengambil kosentrasi penjurusan. Dijurusan Bisnis Manajemen Islam STEI Tazkia, setelah mengalami masa panjang lima semester. Semester enam ini adalah penentuan kosentrasi penjurusan. Kosentrasi  yang tersedia dikampusku dua, Finance dan Marketing.  Mahasiwa  kampusku sering menyebutnya dengan MKI (Manajemen Keuangan Islam), dan MPI (Manajemem Pemasaran Islam).

Namanya juga kosentrasi, otomatis ya porsinya berbeda dari satu dengan yang lainnya. Satu sisi bakal membahas, rasio kesehatan keuangan sebuah perusahaan, apakah perusahan surplus atau deficit. Disisi lain akan membahas strategi-strategi pemasaran yang tepat untuk perusahaan.

Nah dari kedua kosentrasi tersebut, sejauh ini aku masih belum bisa memilihnya. Terdapat beberapa factor yang membuatku sampai saat ini bimbang untuk memilihnya.  Mungkin aku ringkas menjadi dua factor yang sampai saat ini masih dibimbangkan.

Pertama dalam Masa Akhir, atau Penggarapan Skripsi

Enaknya  mengambil kosentrasi manajemen pemasaran Islam ini, aku gak wajib untuk mengerjakan skripsi haha (loh kok bisa?). Nah bisa, karena di manajemen pemasaran  ini harapannya akan menjadi entrepreuner muslim yang unggul, maka gak usah skripsi haha. Terus masa gak ada tugas akhir gitu? Ada! Ya kali di institusi pendidikan tinggi tidak ada tugas diakhir masa studynya -_-. Terus apa dong?

Pengerjaan skripsi pada jurusan MPI, bisa diganti dengan pengarapan Business Model Canvas. Apa itu Business model canvas? Di next postingan akan dibahas apa itu Business Model Canvas ya guys, nantikan!. Kalau masih kepo, aku kasih clue diawalnya ya, Inti dari Business Model Canvas yaitu bagaimana kita diperlakukan sebagai owner suatu bisnis yang kita pilih, dan bagaimana cara kita menentukan factor produksi,  system keuangannya, sampai dengan pemasaran dan akhirnya mendapatkan keuntungan.

Nah, disini aku sudah nemu beberapa bahan objek yang bisa aku jadikan Business Model Canvas. Salah satunya projek bisnis yang akhir Januari ini akan launching bersama teman-teman malhikdua.com serta selenia.co , nantikan yaa.

Sedangkan kalau aku mengambil kosentrasi finance, bener-bener diotak masih blank. Mau meneliti apa aku disemester akhir nanti. Tidak punya gambaran sama sekali akan dunia finance, bahkan semester kemarin pada matakuliah Managemen finance, aku hanya bisa mentok di nilai ‘B’ -_-

Kedua, Finance itu Penting!

Selain kebingungan yang pertama, mungkin kalian akan langsung berpikiran dan menyuruhku untuk berkata “yaudah Zis, lanjut ke kosentrasi Marketing ajah, toh udah punya dasar dan bahan”. But you must to know! Finance itu sangat dibutuhkan di dunia kerja! Melihat pasar dunia kerja, tidak dipungkiri bahwa kosentrasi finance sangat dibutuhkan dalam dunia kerja. Lah iyo, bolak balik aku ndelok loker lagi-lagi dibutuhkannya finance.

Lah kan marketing juga dibutuhkan didunia kerja? Iya keduanya memang menjadi tombak pergerakan perusahaan. Namun, ada perasaan saya yang berpendapat bahwa marketing itu kan bisa belajar mengalir dengan sendirinya. Terlebih dengan harapan dari kosentrasi ini yaitu menciptakan entrepreuner. Gini, aku rasa kalau jadi pengusaha mah tidak perlu muluk-muluk ilmunya. Asal skillnya sudah matang saja, semua orang bisa menjadi entrepreuner. Kalian pasti kenal dengan sosok Bu Susi Pudjiastuti, Pak Khairul Tanjung, sampai Mark Zuckerberg ya kan? saya rasa beliau-beliau juga gak belajar marketing dikelas. Bahkan mungkin tidak mengerti apa itu Business Model Canvas 😀 . Namun mereka-mereka sukses dengan bisnisnya tanpa ada pembelajaran dikelas. Kalau kata tanteku yang sekarang menjadi pengusaha sembako besar pernah berkata “Wis Zis, nek mau jadi pengusaha mah gak usah belajar tinggi-tinggi, kalau mau jadi pengusaha cukup satu kuncinya, ‘MAU’ nanti skil dan ilmu akan mengikuti dengan sendirinya”.

Nah, berdasarkan hal tersebut penulis beranggapan (lah kaya karya ilmiah 😀 ) kalau marketing mah gak usah dibelajarin dikelas, terlebih sekarang aku menjadi manager Marketing komunikasi di lembaga sosial milik Tazkia Grup, kan sudah jadi ladang pembelajaran juga.

Aku kan gak pengen, kuliah selama empat tahun hanya mendapatkan yang seharusnya bisa dipelajari diluar kelas. Terlebih selain finance banyak dibutuhkan di dunia kerja, Belajar finance itu bener-benar butuh guru. Kalau kata anak pesantren, butuh sanad yang bener haha.

Jadi dari kedua alasan tersebut yang membuatku bimbang sampai sekarang. Menurut kalian, aku harus pilih mana?

 

Facebook Comments