Bisnis atau entrepreneur? Apa bedanya sih. Umumnya sama, tapi saat disematkan dalam obrolan warung kopi bernilai beda. Bisnis berkonotasi kejar duit, profit, dll. Sedang entrepreneur terkesan lebih bermartabat, lebih berpendidikan. Bisnis terkadang berkonotasi negatif oleh orang-orang yang tidak suka kita maju, cenderung menjustifikasi pelaku bisnis selalu memperkaya diri, hingga menghalalkan segala cara. Duh!

Beda dengan entrepreneur, image yang terbentuk lebih pada upaya kemandirian berusaha (baca berpenghasilan). Tidak ada buruk2nya, makanya di beberapa pesantren ada yg melabeli dengan “preneur”, bukan “bisnis”.

Ya itu image saja sih. Bagaimana dengan arti Entrepeneur menurut tante wiki. Silakan cek di sini woo, ternyata KEWIRAUSAHAAN. Kirain serumit pelafalannya.

Tapi kenapa pesantren memakai “prenuer”? Padahal praktiknya juga berbisnis. Jangan lupa Rasulullah juga berbisnis. Baca buku PROLM dan Super Leader Super Manager karya Dr. Muhammad Syafii Antonio, M. Ec Disitu diungkap tahapan karir bisnis rasul dari tenaga magang, pekerja, bisnis owner, hingga investor. Artinya, tidak ada yang hina dengan bisnis (selama halal). Nah, setelah lulus dari pondok saya coba colek Paman Gembul (julukan yg disematkan kawan2) agar membisniskan apa yang bisa dibisniskan di Malhikdua.com. Karena saya melihat Sekolah lebih memilih situs SCH sebagai situs resminya. Sedang Malhikdua.com, mbah nya situs sekolah tidak ada “tengok-tengoknya” sama sekali.

Ini peluang cak (seketika otak bisnis saya muncul). Dari Obrolan di warung kopi, sebenanrya mas Novi setuju-setuju, tidak keberatan. Hanya dia malas bergerak di sektor itu. Bahaya. Kecuali nekad. Dalam arti berapapun keuntungan yang didapat cuek2 saja -selama halal-, karena serugi apapun yang pernah menimpa tak pernah diganti (dan memang jangan minta diganti). Keuntungan yang kamu dapat tidak mampu menggantikan keringat dan finansialmu selain ilmu dan pengalaman.

Hmm, aku agak penasaran dengan beberapa kalimat terakhir. Lantas saya tanya bak keponya anak kekinian. Emang hal-hal apa yang menyusahkan saat kelola Malhikdua.com cak? Cak Nov urai panjang lebar. Saya coba simpulkan.

1. Misi dan visi malhikdua.com untuk pemberdayaan SDM, berbeda dengan SCH yg arahnya branding sekolah. Effortnya jelas lebih susah menjalankan misi dan visi malhikdua.com tapi yang dipandang sekolah selalu SCH.

2. Menyuruh anak2 untuk ngeblog itu lebih susah daripada mengajak mereka nulis di SCH.

3. Saat nyala siapakah kita yang dibelakang situs-situs itu, malhikdua.com maupun SCH. Tidak ada yg tahu dan tak perlu tahu. Tapi saat mati, sontak rame2 menghujat. Admin brengsek, kerja ga becus, dll. Padahal sebagai admin tidak ada bayaran dari pihak manapun.

4. Menjaga server itu seperti ronda poskamling. Terkadang pas sadar server problem, malam-malam harus melek buat benerin. Parahnya kalau tidak sadar dan dari pondok tidak ada yang ngasih tahu. Hmm. Runyam. Bisa jadi bahan gosip.

5. Telah banyak biaya yang dikeluarkan dari kocek pribadi demi kelangsungan M2net, termasuk raibnya laptop dalam perjalanan dari Bumiayu menuju Surabaya. (duh, koleksi foto2 santriwati ikut lenyap hehehe..kata caknov)

6. Iklan, nah. Nempelin adsense di Malhikdua.com dan sch. Iklannya nongol terus. Gede. Riskan dikira mesin pendulang dollar. Padahal… #sedih.
Demikian kisah-kisah hasil tukar pikiran ku dg cak nov dalam rangka niatan membisniskan, eh,..komitmen santripreneur yang (seharusnya) melekat di tiap santri (tunjuk muka sendiri). Di tulisan selanjutnya saya akan cerita bagaimana akhirnya kita semua, alumni-alumni mengambil alih sebagian fungsi caknov di malhikdua.com, khususnya terkait dengan program bisnis demi menunjang kesadaran entreprenuer santri.

Facebook Comments